Materi Kelas 8 pertemuan 6
3. Pengaruh Kerja Sama Bidang Ekonomi, Sosial, Politik, Budaya, dan Pendidikanterhadap Kehidupan di ASEAN
Berikut penjelasan tentang pengaruh ruang dan interaksi antarruang terhadap
negara-negara ASEAN melalui bidang ekonomi, sosial, politik, budaya dan
pendidikan.
a. Pengaruh Perubahan Ruang dan Interaksi Antarruang terhadap
Keberlangsungan Kehidupan Ekonomi di Negara-Negara ASEAN
Semua petinggi ASEAN telah sepakat untuk membentuk suatu pasar tunggal
di daerah Asia Tenggara pada akhir tahun 2015. Dengan kesepakatan tersebut
dilakukan untuk menumbuhkan suatu daya saing ASEAN agar meningkat serta
mampu bersaing dengan negara Tiongkok dan India untuk menarik investasi
asing. Dalam hal penanaman modal asing di wilayah ASEAN sangat dibutuhkan
guna memperluas lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan seluruh
anggota ASEAN. Pasar tunggal ini disebut dengan istilah Masyarakat Ekonomi
ASEAN (MEA). Dengan bertahap, MEA membuka peluang satu negara guna
menjual barang atau jasa dengan mudah ke negara-negara anggota ASEAN.
Selain itu, ASEAN juga akan membentuk pasar tenaga kerja profesional, seperti
dokter, ahli keteknikan, guru, akuntan, dan lain-lain. Dengan demikian, interaksi
ini akan membuka peluang suatu tenaga kerja asing guna mengisi berbagai
jabatan serta profesi di Indonesia yang tertutup atau kekurangan sumber daya
manusianya. Pasar tunggal ini disebut dengan istilah Masyarakat Ekonomi
ASEAN (MEA)b.Pengaruh Perubahan Ruang dan Interaksi antarruang terhadap
Keberlangsungan Kehidupan Sosial di Negara-Negara ASEAN
Dengan perubahan kehidupan sosial yang sangat dinamis, kondisi, dan status
sosial masyarakat ASEAN yang berbeda dan hidup berdampingan tetapi
terkadang akan memunculkan pertentangan. Masalah yang sering muncul, yaitu
masalah kemanusiaan hal tersebut dikarenakan sekat-sekat kepentingan.
c.Pengaruh Perubahan Ruang dan Interaksi antarruang terhadap
Keberlangsungan Kehidupan Budaya di Negara-Negara ASEAN
Kebudayaan merupakan salah satu di antara 3 (tiga) pilar utama ASEAN dalam
proses mengarah ke tujuan membangun komunitas pada tahun 2015. Konferensi
ke-6 Menteri Kebudayaan dan Kesenian ASEAN di Kota Hue, Vietnam
dengan tema “Meningkatkan peranan kebudayaan terhadap perkembangan
yang berkesinambungan dari komunitas ASEAN” tanggal 19−20 April 2014,
menegaskan tekad semua negara ASEAN tentang satu komunitas bersama, visi
perubahan komitmen kebudayaan ASEAN, antara lain sebagai berikut.
1)
Festival budaya ASEAN (FBA)
Festival ini merupakan ajang memperkenalkan kebudayaan Kota dan
Kabupaten Purwakarta ke masyarakat ASEAN, juga merupakan ajang
mempertautkan dan memperkenalkan kebudayaan sesama negara ASEAN.
Bagi Indonesia, kegiatan ini merupakan salah satu cara memperoleh devisa
dari sektor pariwisata.
2)
Perkemahan budaya serumpun ASEAN
Jambore Kemah Budaya Serumpun 2010 yg dilaksanakan di Kabupaten
Sambas, Kalimantan Barat , yang diikuti oleh peserta dari Negara Indonesia,
Malaysia dan Brunei Darussalam dimulai pada tanggal 14 hingga 18
desember 2010. Upacara Pembukaan Kemah Budaya Serumpun Indonesia
Malaysia-Brunei 2010 dilaksanakan pada Hari Rabu, 15 Desember 2010.
Kegiatan ini sudah beberapa kali berlangsung: tahun 2010 di Sambas,
tahun 2012 di Makassar, dan yang akan datang pada tahun 2017 di
Kabupaten Siak. Kegiatan ini turut mendukung kelestarian dan peningkatan
silaturahmi Bangsa Serumpun Indonesia – Malaysia – Brunei Darussalam.
Selain itu, turut serta mewariskan dan menanamkan nilai-nilai budaya
luhur kepada genersai muda Indonesia – Malaysia – Brunei Darussalam,
serta memperkuat komitmen terhadap suksesnya pendidikan, mendukung
program kepariwisataan, khususnya dengan memperkenalkan budaya
daerah sebagai daerah tujuan wisata terpilih dan spesifik.
3)Industri musik
Perkembangan industri musik sangat maju. Konser, festival musik, dan
berbagai even lainnya menunjukkan hal tersebut.
d. Pengaruh Perubahan Ruang dan Interaksi antarruang terhadap
Keberlangsungan Kehidupan Politik di Negara-Negara ASEAN
1) Sengketa Perbatasan Wilayah
Masalah perbatasan wilayah telah menjadi persoalan di beberapa negara
ASEAN, seperti kasus Pulau Natuna, kasus Sipadan dan Ligitan, kasus
Kepulauan Spratly, dan Kuil Preah Vihear, dan Pulau Pedra Branca.
Negara-negara yang bersengketa tersebut terus mengupayakan
penyelesaian melalui cara diplomasi.
2)Pekerja Migran
Beberapa kasus pekerja migran yang menjadi perhatian negara-negara
ASEAN antara lain kerja paksa tenaga asing dengan biaya murah dan
perdagangan pekerja rumah tangga migran.
e.Pengaruh Perubahan Ruang dan Interaksi antarruang terhadap
Keberlangsungan Kehidupan Pendidikan di Asia Tenggara
Secara khusus menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN, pemerintah Indonesia
berupaya memberikan kesempatan kepada lembaga pendidikan melakukan
reformasi menyeluruh dalam sistem pendidikan. Contohnya, meningkatkan
mutu pendidik baik bagi dosen atau guru melalui proses sertifikasi, akreditasi,
standarisasi pendidikan, peningkatan gaji dan kesejahteraan pendidik, serta
rekrutmen pendidik yang profesional.
4. Upaya-Upaya Meningkatkan Kerja sama di antara Negara-Negara ASEAN
Melalui Tiga Pilar ASEAN dalam rangka pembentukan Masyarakat ASEAN
tahun 2015 terus ditingkatkan. Tiga pilar tersebut yaitu kerja sama dalam bidang
politik keamanan, ekonomi, dan sosial budaya. Peningkatkan kerja sama tersebut
memerlukan dorongan, antara lain kekompakan, konsistensi, keterbukaan, rasa
“ke-kekita-an” (we feeling), saling menghormati dan kesetiakawanan sosial (a
caring and sharing community), serta dinamis dalam menjalani kerja sama. Kerja
sama yang dibangun harus berfokus pada masyarakat (people-centered approach)
dalam berbagai sektor (multisektor). Pertemuan ke-1 ASEAN Ministerial Meeting
on Women di Vientiane, Laos, 1619 Oktober 2012 telah mengadopsi Vientiane
Declaration on Enhancing Gender Perspective and ASEAN Women’s Partnership for
Environmental Sustainability. Deklarasi tersebut merupakan komitmen ASEAN untuk
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan perempuan dalam bidang lingkungan,
akses, kepemilikan, dan kontrol terhadap sumber daya, serta pembuatan kebijakan,
strategi, dan program mengenai lingkungan berkelanjutan untuk perempuan terutama
yang berasal dari kelompok rentan.
Berikut penjelasan tentang pengaruh ruang dan interaksi antarruang terhadap
negara-negara ASEAN melalui bidang ekonomi, sosial, politik, budaya dan
pendidikan.
a. Pengaruh Perubahan Ruang dan Interaksi Antarruang terhadap
Keberlangsungan Kehidupan Ekonomi di Negara-Negara ASEAN
Semua petinggi ASEAN telah sepakat untuk membentuk suatu pasar tunggal
di daerah Asia Tenggara pada akhir tahun 2015. Dengan kesepakatan tersebut
dilakukan untuk menumbuhkan suatu daya saing ASEAN agar meningkat serta
mampu bersaing dengan negara Tiongkok dan India untuk menarik investasi
asing. Dalam hal penanaman modal asing di wilayah ASEAN sangat dibutuhkan
guna memperluas lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan seluruh
anggota ASEAN. Pasar tunggal ini disebut dengan istilah Masyarakat Ekonomi
ASEAN (MEA). Dengan bertahap, MEA membuka peluang satu negara guna
menjual barang atau jasa dengan mudah ke negara-negara anggota ASEAN.
Selain itu, ASEAN juga akan membentuk pasar tenaga kerja profesional, seperti
dokter, ahli keteknikan, guru, akuntan, dan lain-lain. Dengan demikian, interaksi
ini akan membuka peluang suatu tenaga kerja asing guna mengisi berbagai
jabatan serta profesi di Indonesia yang tertutup atau kekurangan sumber daya
manusianya. Pasar tunggal ini disebut dengan istilah Masyarakat Ekonomi
ASEAN (MEA)b.Pengaruh Perubahan Ruang dan Interaksi antarruang terhadap
Keberlangsungan Kehidupan Sosial di Negara-Negara ASEAN
Dengan perubahan kehidupan sosial yang sangat dinamis, kondisi, dan status
sosial masyarakat ASEAN yang berbeda dan hidup berdampingan tetapi
terkadang akan memunculkan pertentangan. Masalah yang sering muncul, yaitu
masalah kemanusiaan hal tersebut dikarenakan sekat-sekat kepentingan.
c.Pengaruh Perubahan Ruang dan Interaksi antarruang terhadap
Keberlangsungan Kehidupan Budaya di Negara-Negara ASEAN
Kebudayaan merupakan salah satu di antara 3 (tiga) pilar utama ASEAN dalam
proses mengarah ke tujuan membangun komunitas pada tahun 2015. Konferensi
ke-6 Menteri Kebudayaan dan Kesenian ASEAN di Kota Hue, Vietnam
dengan tema “Meningkatkan peranan kebudayaan terhadap perkembangan
yang berkesinambungan dari komunitas ASEAN” tanggal 19−20 April 2014,
menegaskan tekad semua negara ASEAN tentang satu komunitas bersama, visi
bersama, dan jati diri bersama. Perkemahan Pemuda ASEAN, dan Jaringan Kota
Kuno ASEAN. Beberapa aktivitas lain yang dilakukan sebagai dampak pengaruh perubahan komitmen kebudayaan ASEAN, antara lain sebagai berikut.
1)
Festival budaya ASEAN (FBA)
Festival ini merupakan ajang memperkenalkan kebudayaan Kota dan
Kabupaten Purwakarta ke masyarakat ASEAN, juga merupakan ajang
mempertautkan dan memperkenalkan kebudayaan sesama negara ASEAN.
Bagi Indonesia, kegiatan ini merupakan salah satu cara memperoleh devisa
dari sektor pariwisata.
2)
Perkemahan budaya serumpun ASEAN
Jambore Kemah Budaya Serumpun 2010 yg dilaksanakan di Kabupaten
Sambas, Kalimantan Barat , yang diikuti oleh peserta dari Negara Indonesia,
Malaysia dan Brunei Darussalam dimulai pada tanggal 14 hingga 18
desember 2010. Upacara Pembukaan Kemah Budaya Serumpun Indonesia
Malaysia-Brunei 2010 dilaksanakan pada Hari Rabu, 15 Desember 2010.
Kegiatan ini sudah beberapa kali berlangsung: tahun 2010 di Sambas,
tahun 2012 di Makassar, dan yang akan datang pada tahun 2017 di
Kabupaten Siak. Kegiatan ini turut mendukung kelestarian dan peningkatan
silaturahmi Bangsa Serumpun Indonesia – Malaysia – Brunei Darussalam.
Selain itu, turut serta mewariskan dan menanamkan nilai-nilai budaya
luhur kepada genersai muda Indonesia – Malaysia – Brunei Darussalam,
serta memperkuat komitmen terhadap suksesnya pendidikan, mendukung
program kepariwisataan, khususnya dengan memperkenalkan budaya
daerah sebagai daerah tujuan wisata terpilih dan spesifik.
3)Industri musik
Perkembangan industri musik sangat maju. Konser, festival musik, dan
berbagai even lainnya menunjukkan hal tersebut.
d. Pengaruh Perubahan Ruang dan Interaksi antarruang terhadap
Keberlangsungan Kehidupan Politik di Negara-Negara ASEAN
1) Sengketa Perbatasan Wilayah
Masalah perbatasan wilayah telah menjadi persoalan di beberapa negara
ASEAN, seperti kasus Pulau Natuna, kasus Sipadan dan Ligitan, kasus
Kepulauan Spratly, dan Kuil Preah Vihear, dan Pulau Pedra Branca.
Negara-negara yang bersengketa tersebut terus mengupayakan
penyelesaian melalui cara diplomasi.
2)Pekerja Migran
Beberapa kasus pekerja migran yang menjadi perhatian negara-negara
ASEAN antara lain kerja paksa tenaga asing dengan biaya murah dan
perdagangan pekerja rumah tangga migran.
Keberlangsungan Kehidupan Pendidikan di Asia Tenggara
Secara khusus menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN, pemerintah Indonesia
berupaya memberikan kesempatan kepada lembaga pendidikan melakukan
reformasi menyeluruh dalam sistem pendidikan. Contohnya, meningkatkan
mutu pendidik baik bagi dosen atau guru melalui proses sertifikasi, akreditasi,
standarisasi pendidikan, peningkatan gaji dan kesejahteraan pendidik, serta
rekrutmen pendidik yang profesional.
4. Upaya-Upaya Meningkatkan Kerja sama di antara Negara-Negara ASEAN
Melalui Tiga Pilar ASEAN dalam rangka pembentukan Masyarakat ASEAN
tahun 2015 terus ditingkatkan. Tiga pilar tersebut yaitu kerja sama dalam bidang
politik keamanan, ekonomi, dan sosial budaya. Peningkatkan kerja sama tersebut
memerlukan dorongan, antara lain kekompakan, konsistensi, keterbukaan, rasa
“ke-kekita-an” (we feeling), saling menghormati dan kesetiakawanan sosial (a
caring and sharing community), serta dinamis dalam menjalani kerja sama. Kerja
sama yang dibangun harus berfokus pada masyarakat (people-centered approach)
dalam berbagai sektor (multisektor). Pertemuan ke-1 ASEAN Ministerial Meeting
on Women di Vientiane, Laos, 1619 Oktober 2012 telah mengadopsi Vientiane
Declaration on Enhancing Gender Perspective and ASEAN Women’s Partnership for
Environmental Sustainability. Deklarasi tersebut merupakan komitmen ASEAN untuk
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan perempuan dalam bidang lingkungan,
akses, kepemilikan, dan kontrol terhadap sumber daya, serta pembuatan kebijakan,
strategi, dan program mengenai lingkungan berkelanjutan untuk perempuan terutama
yang berasal dari kelompok rentan.
Comments
Post a Comment